
| Biodata | |
|---|---|
| Nama Lengkap | Tarendra Praditya |
| Panggilan | Endra, Rendra |
| Tempat, Tanggal Lahir | Bandung, 2 Agustus 2004 |
| Tinggi badan | 166 cm |
| Berat badan | Kepo yak! |
| Golongan darah | O- |
| Warna rambut | Merah gelap (burgundy) |
| Warna mata | Hijau zaitun |
| Keluarga | Fahrezy Praditya (ayah), Eva Yuliani (ibu, almh.) |
| Rupa muka | Shikanoin Heizou (Genshin Impact) |
Luka, luka. Hilanglah luka. Biar senyum jadi senjata. — Diri by Tulus

Tarendra lahir sebagai anak tunggal dari pasangan Fahrezy Praditya dan Eva Yuliani di Kabupaten Bandung 19 tahun lalu. Semasa kecilnya, ia menempuh pendidikan dasar di Bandung bahkan bercita-cita untuk memasuki universitas ternama, baik swasta atau negeri. Meski kadangkala kesempatan mengejar edukasi terhambat karena ia tinggal di salah satu kecamatan di kabupaten Bandung yang sering terendam banjir tatkala hujan tiba.
Masa kecilnya serupa dengan anak-anak pada umumnya. Ia senang bermain dengan kawan-kawannya, supel, dan sering menjadi panutan karena acapkali meraih peringkat tinggi di kelas. Kenangan manis masa kecil membawa bibit motivasi dalam diri seorang Tarendra. Hidup tak hanya sebatas pelangi dan tawa, karena pada suatu momen badai besar menaungi hidupnya ketika sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya akibat komplikasi jantung yang dialami seusai evakuasi dari bencana banjir.
Badai itu menghantam Tarendra dan sang ayah cukup kuat, hingga pada titik hubungan mereka merenggang. Sang ayah masih belum menerima kepergian sang istri yang terlampau mendadak, sang anak juga ingin diperhatikan dan membutuhkan kasih sayang sang ayah dan pada akhirnya, mereka mampu berdamai bersama.
Ayah harusnya bilang begini dari awal. Ayo kita rindu Mamih sama-sama, ya? Jangan dipikul sendiri. Berat, Nak. — Rangkulan sang ayah kepada sang putra.

Badai pun akan selalu mereda, cepat atau lambat. Kini ia memilih untuk terus melangkah, sebuah keyakinan telah tertanam jauh dalam hati kecilnya, yakin bahwa dimana pun ia berada bahwa Tuhan selalu membersamainya, turut dengan sang ayah di rumah dan sang ibu di Surga sana. Ini yang terus mendorong Tarendra untuk maju.
Kini ia telah duduk di bangku kuliah di semester 3 jurusan Sosiologi salah satu universitas ternama di Indonesia. Tarendra yakin, hidupnya akan semakin lebih berwarna seiring berjalannya waktu. Jalani hidup seakan hari ini adalah hari terakhirnya, bangun di pagi seakan pagi itu ia akan pergi detik itu juga.
Jakarta teh panas pisan! Nyamuknya edun! — Sang pangeran cerdas, berbaring di lantai share house dengan bekas gigitan serangga di pipi dan sekujur tangan.

Orangtuanya Sunda tulen, sang ayah lahir di Sukabumi dan sang ibu di Kabupaten Bandung. Ini menyebabkan Tarendra cukup sering bercakap-cakap dalam bahasa Sunda, bahkan mencampurkannya dengan bahasa Indonesia saat ia merantau di Jakarta.
Warna merah rambutnya itu alami. Bukan dari cat. Gara-gara ini, ia pernah nyaris terkena sanksi OSIS baik di masa SMP dan SMA karena pihak OSIS mengira rambutnya dicat.
Di universitas, ia mengikuti kegiatan kepengurusan Koperasi Mahasiswa (Kopma). Targetnya nanti, setelah menginjak semester 4 ia ingin mendaftar ke dewan mahasiswa (DEMA).
Termasuk kaum YAAA—Yang Aslam Aslam Aja—alias telat makan sedikit, langsung perih perutnya.
Makanan kesukaannya adalah liwet dan nasi goreng. Minuman kesukaannya adalah es teh manis. Makanan yang kurang ia sukai adalah sambal.
Hobinya adalah membaca,
mengisengi penduduk share house dengan meme jeleknya, dan traveling.Kalau pulang ke Bandung, lebih memilih pakai motor daripada kendaraan umum atau mobil, namun kadangkala ia menggunakan kendaraan umum jika dalam keadaan darurat.
Cita-citanya adalah bepergian ke seantero pulau Jawa dari ujung Banten hingga ujung Jawa Timur.
Kini Tarendra menempati salah satu share house selama ia menempuh pendidikan tinggi di Jakarta.
lebih banyak fakta akan ditambahkan di lain waktu.
